Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Bagaimana Masa Depan Kita..?


Salam silahturohmi,
Guna bacaan di akhir pekan kali ini seperti biasa OK YAdi mencoba menautkan sebuah tulisan yang mungkin sedikit bisa memacu kita tuk selalu bersyukur dan berusaha tuk menikmati hari-hari ini dengan bekerja, tidak hanya dengan rasa sesal dan cemas. Taaaaaaapiiiiii.... biasa...heheeeeee.. bila nanti kurang berkenan atau da hal-halyang sekiranya mengganggu pikiran sahabat... kami MEMOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA ya.... karena inihanya sebuah tulisan biasa ok.... dan tidak usah bertele-tele kita srupuuuutttt yuuuuk...

Nah... ini ada cerita di suatu sore ada seorang anak kecil sedang berjalan-jalan di taman. Di saat sedang asyik-asyiknya menikmati indahnya keasrian rimbunnya pepohonan dan semilirnya angin sepoi-sepoi, langkahnya terhenti karena matanya tertangkap tingkah seorang bapak-bapak yang sedang melamun dengan tatapan mata yang kosong. Hati anak kecil itu pun terusik untuk mencari tahu apa yang membuat bapak tersebut melamun seolah-olah dunia ini sudah tidak punya harapan lagi untuk hidupnya.

“Apa yang terjadi dengan bapak, sepertinya bapak sangat sedih ?” Tanya anak kecil itu dengan polos.
“Anak kecil, kamu tidak akan mengerti masalah orang tua seperti saya “Jawab bapak tadi dengan malas-malasan.
“Tapi saya ingin tahu, bapak ?” Anak kecil tadi mendesak.
“Baiklah, saya akan beritahu kamu. Bapak sedang menyesali masa lalu. Mengapa dulu bapak tidak berusaha keras untuk saat ini”.

Setelah mendapatkan jawaban, anak kecilpun berlalu dan meneruskan perjalanan sorenya. Namun belum lama berjalan, lagi-lagi jiwanya kembali terusik dengan sikap bapak-bapak yang lain. Kali ini yang dilihat olehnya adalah seorang bapak yang mondar mandir tidak karuan. Anak kecil itu pun menghampiri bapak tersebut dan mencari tahu apa yang sedang menimpanya.

“Apa yang terjadi dengan bapak, sepertinya bapak sangat gelisah?
“Anak kecil, jika kamu nanti sudah sebesar saya, kamu akan mengerti” Jawab bapak itu
“Tapi saya ingin tahu sekarang, bapak ?
“Baiklah, bapak akan memberitahu kamu. Bapak sedang memikirkan masa depan bapak. Bapak takut masa depan bapak suram karena sampai saat ini bapak masih belum punya bekal apa-apa.

Sesudah itu anak kecil tersebut meninggalkan bapak yang sedang mencemaskan masa depannya. Tidak jauh dari situ, anak kecil kembali menemukan seorang bapak-bapak yang sedang sibuk bekerja. Tapi wajahnya terlihat sangat senang, tidak ada kesedihan maupun kegelisahan seperti kedua bapak yang ia jumpai tadi. Kembali pikiran anak kecil itu berkecambuk untuk mendapatkan sebuah jawaban.

“Mengapa bapak begitu gembira, padahal bapak sedang berkerja keras ? “ Anak kecil tersebut semakin penasaran. Hanya dalam sekejap dirinya menemukan tiga bapak-bapak yang mempunyai sikap yang berbeda-beda.

“Anakku, ketahuilah bapak tidak sedang bekerja keras tetapi bapak hanya berkerja. Dan yang membuat bapak gembira adalah karena bapak menyukai apa yang bapak kerjakan hari ini “. “ Sebelumnya anak tadi telah menemui seorang bapak-bapak yang sedang menyesali masa lalunya dan seorang lagi sedang mencemaskan masa depannya. Apakah bapak tidak mempunyai masa lalu dan masa depan ?
“Bapak tadi tertawa sejenak kemudian baru menjawab pertanyaan anak kecil yang memiliki rasa keingintahuan yang luar biasa.

“Anakku, Detik Ini Akan Menjadi Masa Lalu Bagi Detik Berikutnya, Dan Detik Berikutnya Adalah Masa Depan Detik Ini. Maka Jalani Detik Ini Dengan Sebaik-Baiknya “.

Hari pun mulai malam dan anak kecil itu pun kembali keperindukan dengan segudang falsafah hidup yang ia dapatkan hari ini.

“ MENYESALI MASA LALU ADALAH KESEDIHAN, MENCEMASKAN MASA DEPAN ADALAH KEGELISAHAN BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK SAAT INI ADALAH KEGEMBIRAAN “

Sahabat….Apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa dirubah, karena waktu tidak pernah bisa berkompromi dengan manusia. Seperti kata pepatah “ Dengan waktu sedetik kita bisa membeli batangan emas, namun batangan emas tidak akan bisa untuk membeli waktu sedetik “. Untuk itu sahabatku janganlah pernah menyesali masa lalu, kita harus mengerti bahwa hidup dalam bayangan masa lalu adalah sia-sia.

Demikian juga kita tidak perlu mencemaskan masa depan. Orang-orang yang mencemaskan masa depan adalah orang-orang yang tidak mempunyai rasa percaya diri. Yang akhirnya, tidak jarang membuat mereka mencari tahu masa depannya dengan mengunjungi para tukang ramal. Apabila si tukang ramal mengatakan masa depannya baik membuat mereka siang malam menunggu datangnya hari keberuntungan itu tanpa mau berusaha dengan maksimal. Sebaliknya, apabila kata si tukang ramal bahwa nasib telah menggariskan masa depannya tidak cerah alias tidak punya masa depan maka mereka pun tak segan-segan mengeluarkan uang yang banyak untuk mengubah masa depan buruk menjadi baik dengan berbagai ritual yang harus dilakukan. Dan ini sering dijadikan oleh tukang ramal untuk mendapatkan banyak uang dengan menjual atas nama ilmu merubah nasib yang ia miliki. Ingatlah, sahabatku masa depan bukanlah nasib yang telah digariskan kepada setiap manusia apalagi ada ditangan tukang ramal.

Ada satu pepatah lagi yang kurang lebih berbunyi :“ Walaupun nasib kita digariskan sebagai raja kalau kita tidak berusaha selamanya tetap tidak akan bisa menjadi raja. Sebaliknya walaupun nasib kita digariskan sebagai pengemis jika kita bekerja keras pasti tidak akan jadi pengemis “

JADI BAGAIMANA IDEALNYA KITA MENJALANI HIDUP?
Jangan memikirkan masa lalu dan jangan mencemaskan masa depan. Sekali lagi kita tidak bisa kembali ke masa lampau untuk membatalkan apa yang telah terjadi dan kita juga tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi dikemudian hari. “ Saat ini, Sekarang ini “ adalah kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Berusahalah kita sebaik-baiknya untuk saat ini dan jangan pernah mengabaikannya. Setiap detik yang terlewati selalu menyimpan berbagai peluang. Jika kita tidak memanfaatkannya maka harapan kesuksesan akan meninggalkan kita dengan airmata kegagalan.

Kekuatan untuk membangun kesuksesan ada pada saat ini, bukan pada saat berikutnya atau saat sebelumnya. Kebahagiaan hidup ada pada mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan saat ini. Bukan mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan pada saat sebelumnya atau sesudahnya. Dan kesuksesan hidup terletak pada apa yang kita lakukan sesuai dengan keinginan hati. Seberapapun kerasnya kita bekerja jika kita kerjakan dengan hati yang senang akan terasa ringan. Demikian juga sebaliknya, seringan apapun pekerjaan yang kita lakukan bila tidak sesuai dengan keinginan hati akan terasa berat.

” Masa Lalu adalah Lukisan Yang Telah Kusam, sedangkan Masa depan adalah Lukisan Yang Abstrak dan SAAT ini adalah Lukisan Yang Paling NYATA ”.

Allah mengingatkan kita agar kita tidak menyesal dikemudian hari dengan firmannya : “ Dan ber-infaqlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Q.S.Al-Munafiqun :10 )

Salam silahturohmi dan hangat
^_^
sumber =>lentera-ummat.co.cc

Senin, 27 Juni 2011

Sayang dan Cinta pada Diri Sendiri


Mengawali sesuatu itu hendaknya dan akan lebih baik bila diawali dengan niat yang baik pula. Marilah mulai dengan niat serta sesuatu yang kecil yang mungkin tak terlalu berharga di mata kita dan disepelakan, padahal mungkin itu awal yang besar untuk sesuatu yang besar.

Contohnya, mulailah dari uang receh (kalau dilihat kan ya…. cuma receh) mungkin itu sangat kecil, tapi jika kita kumpulkan beberapa receh yang mungkin tercecer di sana-sini terus coba kita lihat wujutnya sih tetap receh tapi dari sisi jumlahnya apakah tetap sejumlah receh?, tidak kan?. Juga mungkin dengan uang receh itu, akan membantu dan melatih kita untuk lebih baik terhadap sesama.

Andai kata kita sedang di atas sebuah bus, tau-tau datang seorang pengamen menyanyikan sebuah lagu untuk kita atau seorang pengemis, apa yang akan kita lakukan dalam kondisi ini? mengusirnya, diam saja, pura-pura tidur atau kita akan memberikan sekeping recehan?
Barangkali kita akan ada rasa enggan, juga kesal, tapi cobalah kita tekan perasaan itu seiring dengan keikhlasan untuk memberi. Bukankah tak seorang pun ingin memurukan dirinya untuk menjadi pengamen / pengemis i.. ya kan?, makanya kita mesti bersyukur karna kita masih lebih baik dibandingkan mereka.

Sebenarnya yang perlu kita ingat adalah menganggap bahwa kali ini kita hanya sedang "berlatih memberi”; bukankah tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah?, dan mungkin receh tadi tidaklah berarti besar buat kita, tapi buat mereka itu sungguh besar artinya dan coba rasakan juga, itu pasti akan menimbulkan sesuatu yang mengalir bak air dari dalam diri kita melalui telapak tangan kita. Ya.... sesuatu yang bernama kasih sayang.

Dan sebenarnya, bukan receh atau berlian yang kita berikan. tapi kemurahan hati, karena kemurahan itu bukan terletak di telapak tangan, melaikan di dalam hati..... ya di dalam hati kita.
Setelah kita melakukan kemurahan hati maka akan timbul rasa cinta, cinta terhadap sesama dan akan menimbulkan kedamaian di hati dan di dunia ini.

Cinta pada apa saja, sampai kita cinta terhadap pekerjaan, tempat kerja, teman-teman di tempat kerja sampai dalam perjalanan kita untuk menuju tempat atifitas-pun hendaklah disertai dengan rasa cinta, karna dengan cinta akan menimbulkan rasa bahagia.

Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka coba cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Karena dengan kita mencintai orang-orangnya rasa kegembiraan dari pertemanan itu akan terus memacu kita untuk lebih baik dan pekerjaan pun akan menjadi menggembirakan. Bila kita tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka cintailah suasana kantor kita. Ini akan mendorong kita untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik, kan begitu?. Bila toh kita juga tidak bisa melakukannya, maka cintailah setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja kita. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun bila kita tak menemukan kesenangan di sana juga, maka cintailah apa pun yang bisa kita cintai dari kerja kita.

Dan bila masih juga kita tak menemukannya di sana?, maka akan timbul pertanyaan mengapa kita ada si sana …. Heheheeeee

Hidup hanya sekali, tak ada yang lebih indah selain melakukan sesuatu itu dengan niat yang baik, penuh dengan keiklasan, saling membantu, penuh kasih sayang dengan rasa cinta yang tulus, maka apa yang kita kerjakan mudah-mudahan akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat

*-*
Salam
Ok Yadi

Selasa, 26 April 2011

Ketekunan Kita dan Rasa Syukur


Bersyukur
Kata syukur, mudah di ingat tapi kadang kita lupa akan makna bersyukur. Dan senantiasa kita hendaknya selalu mensyukuri apapun yang menimpa diri kita bukan saja masalah yang datang ataupun keberuntungan, dengan bersyukur akan menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan dari pada sisi negatif dari hidup.
Lain orang, lain juga menyimpulkannya dan mungkin lain juga mengatakannya bahwa kita tidak realistis.

Bersyukur dapat mendorong kita untuk senantiasa bergerak maju dengan penuh antusias dan penuh harapan, karena jikalau kita mau selalu bersikap baik dan selalu bersyukur maka itu dapat mempengaruhi dalam menjalani hidup ini.

Jika kita semakin banyak bersyukur, semakin banyak kita menerima, bukannya semakin banyak kita mengingkari maka akan semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri kita sendiri, tapi kebanyakan orang selalu terpaku pada kegagalan lalu dia akan mengingkarinya.

Dalam kehidupan ini sangatlah sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya, tapi jikalau belum berhasil maka yang timbul rasa menggerutu dan berkeluh kesah. Tapi pada prinsipnya kita dapat berhasil kerena kita mau berusaha, sedangkan usaha yang kita lakukan itu bisa kita tingkatkan kerena kita melihat selalu dari segi positifnya, dan bila rasa syukur itu timbul maka rasa itu akan tetap ada.

Ketekunan Kekuatan Kita (K3)
Karena prinsipnya apa yang kita raih sekarang adalah hasil usaha-usaha kecil yang kita lakukan terus-menerus. Keberhasilan bukanlah sesuatu yang turun begitu saja. Bila kita yakin pada tujuan dan jalan yang baik, maka kita harus memiliki rasa ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan, Maka kita harus tetap selalu mengambil langkah yang terbaik untuk tingkat selanjutnya. Bukannya terus kita berhenti di langkah dan mempertahankannya, tapi kita seyogyanya selalu upayakan agar terus meningkat. Memang jika kita semakin jauh melangkah semakin banyak rintangan yang menghadangnya. Tapi bagaimana kita mau maju kalau kita belum mencobanya sudah menyerah lebih dulu?

Kita mesti selalu ingat bahwa setiap langkah kita maka akan mempengaruhi juga nilai dari diri kita sendiri. Tapi……. Seyogyanya apapun yang kita lakukan janganlah sampai kita kehilangan ketekunan. Karena dalam ketekunan tersimpan akan daya tahan kita.

Nah… mungkin kita pernah mendengar salah satu pepatah yang berbunyi ribuan kilometer langkah yang tercapai pasti dimulai dari satu langkah, terus sebuah langkah besar, sebenarnya itu terdiri dari langkah-langkah kecil yang terangkai. Dan langkah pertama keberhasilan kita mestinya dimulai dari rumah kita sendiri, ya rumah kita sendiri dan berada ada di dirikita sendiri. Rumah kita yang paling baik yang ada di diri kita sendiri adalah hati kita. Ya karena itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali.
Makanya apapun yang di awali dari dalam hati, maka akan menyentuh hati pula. Karena itu marilah kita mulai kemajuan kita denagn memajukan hati, kemudian pikiran kita dan usaha-usaha kiata, serta selalu didampingi dengan rasa syukur.

Ketekunan akan hadir bilamana kita melakukan sesuatu yang positif dengan benar-benar dari dalam hati kita maka pada saatnya kita akan mendapatkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung keping uang, yaitu : bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan mendapatkan kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil tersebut mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya ? Yaitu bila disertai dengan secercah kasih sayang didalamnya. ucapan terima kasih, senyuman, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja. namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih berharga dari pada sekantung keping uang kita.

Nah…. Semoga bermanfaat, dan apa bila ada kekurangan kami memohon sudi kiranya para sahabat membukakan pintu maaf kepada kami.

Salam,

Selasa, 16 November 2010

Cintailah Cinta (CC)

Memang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia tak membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.
Ini sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, namun hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.

Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita.

Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun bila kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.
Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.

Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancurkan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah kepada orang lain.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana mencipta semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.

Cinta dimulai dengan sebuah senyum, kemudian tumbuh dengan sebuah kecupan, dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita menangis begitu kerasnya, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita menanggalkan hidup maka, kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang disekeliling kita menangis.

Sumber : Motivasi Net (submitted by Satriyo H.Wibisono, satriyohw@j...)

Selasa, 03 Agustus 2010

Hidup yang Indah



Kita dalam menghadapi kehidupan ini kadang sering merasa hidup ini begitu-begitu saja dan mungkin malah merasa begitu menekan dan sulit. Dengan melakukan berbagai pekerjaan mungkin membuat kita dapat melewati hari demi hari walau kadangkala diselimuti juga dengan rasa stres yang mendalam.
Dengan kehidupan yang selalu diselimuti berbagai masalah yang dapat membuat kita tidak bisa berkosentrasi dan merasa tak mampu lagi menikmati hal-hal menurut kita indah dan menarik dalam hidup ini. Sebegitu jenuhnya dan begitu rumitnya permasalahan bahkan kadangkala ada juga yang merasa putus asa sehingga mengakibatkan adanya upaya untuk mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi walaupun tidak seekstrim itu, banyak juga yang merasa menjadi seperti robot dalam melewati rutinitas sehari-harinya, tanpa ada gairah, tanpa semangat, tanpa harapan.

Maka dari itu kita hidup mesti mimiliki harapan, manusia mempunyai alasan untuk tetap hidup demi melanjutkan kehidupannya. Dengan harapan kita manusia tidak pernah berhenti dalam berjuang. Karena dengan harapan itu membuat manusia dapat merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan kehidupannya. Jadi semua ini membuktikan bahwa hidup manusia itu sangatlah berharga, karena di dalam kehidupan ini terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan agar membuat manusia tetap hidup dan dapat melakukan sesuatu, berbuat sesuatu seperti untuk menikmati segala hal dalam hidup ini dengan sukacita dan kita juga senantiasa hidup dalam kebenaran dan keadilan, dengan tetap menjaga hidup terohanian kita.

Dari semuanya ini memberikan penjelasan kepada kita, bahwa keindahan hidup tidak dapat diukur dari panjang pendeknya umur, tidak dapat juga diukur dari kaya miskinnya orang, tetapi dari bagaimana kita mengisi kehidupan ini.

Karena hidup sangatlah berarti, maka kita dalam kehidupan ini mesti mengisinya dengan kerja dan usaha, tentu tidak juga lepas dari do’a kita kepada sang pencipta. Dari semua itu yang paling penting adalah meskipun hidup ini penuh dengan permasalahan, tetapi hidup ini adalah pemberian Tuhan, Tuhan yang Maha Esa, maka selama kita masih hidup nikmatilah hidup kita dengan kerja, sukacita dan tentunya dengan penuh harapan.

Hanya dengan demikian kita dapat menemukan keindahan hidup. Karena hidup ini adalah Anugerah.

Semoga bermanfaat
***
Salam,

Rabu, 21 Juli 2010

Tidak Ada Yang Sia-Sia


Dalam kehidupan ini kita senantiasa harus memiliki rasa otimisme, karena rasa optimisme itu adalah bagaimana kita memandang hidup ini sebagai persembahan yang terbaik. Tidak ada segala sesuatu yang terjadi dengan begitu saja dan mengalir dengan rasa kesia-siaan. Pasti semuanya ada proses dan tujuan. Pastibya ada maksudnya juga. Mungkin saja kita pernah mengalami pengalaman yang buruk yang tak mengenakkan, maka dari keburukan itu hanya disebabkan karena kita melihat dari salah satu sisi sudut pandang saja.
Tapi bila kita mau dan berani menengok ke sisi yang lain, mungkin kita akan menemukan atau menjumpai suatu pemandangan dan pemahaman yang jauh berbeda.

Dalam menjalani kehidupan kita senantiasa tidak harus menjadi orang yang selalu tersenyum terus atau menampakkan raut wajah yang ceria. Karena rasa optimisme itu terletak di dalam hati kita dengan penyaluran melalui perantara yaitu indra-indra kita yang lainnya, bukannya hanya yang terlihat terpampang di permukaan saja. Maka jadilah rasa optimis itu, karena dalam menjalani kehidupan ini sangatlah rumit bila hanya dipandang dengan mengerutkan kedua alis kita.

Sebagai contoh, sebuah air mengalir yang sering kita lihat itu terdiri dari tetesan air yang sangatlah melimpah.
Karena dari setiap tetes air yang keluar dari mata air itu tahu bahwa mereka akan mengalir menuju ke laut. Walaupun dalam perjalanannya menemui masalah dan meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau juga muara. Tapi satu mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan mereka rela mesti harus menunggu di samudra yang luas, dari setiap tetes air itu tahu, suatu saat nanti bila panas dan angin telah datang maka mereka yakin bahwa mereka akan membawanya ke puncak-pucak gunung dan menjadikannya sebuah awan dan akhirnya akan kembali lagi berubah ujud, dan menurunkan hujan. Dari air yang turun itu sebagian menyuburkan rerumputan, sebagaian tertampung dalam sumur-sumur, Sebagian lagi akan kembali ke laut. Itulah proses yang mesti mereka lalui dan mereka jalani.

Dari proses sedemikian itu adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang kita temui di selokan rumah kita?. Tidak.

Salam persahabatan.
Semoga bermanfaat

Ada kata bijak :
Kebahagiaan kita akan tumbuh berkembang manakala kita membantu orang lain. Namun, bilamana kita tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering.

Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan membari. (J.Donald Walters)

Jumat, 02 Juli 2010

J I K A



Jika derita akan menjadi masa lalu yang pada akhirnya, maka mengapa mesti kita jalani dengan sepedih rasa.
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang pada nantinya.

Jika kesedihan itu akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa kita tidak menikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jika luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa kita mesti membiarkan meracuni jiwa, sedang ketabahan dan kesabaran adalah hal lebih baik.

Jika kebencian dan kemarahan itu akan menjadi masa lalu yang pada akhirnya, mengapa kita mesti mengumbar sepuas jiwa, sedang menahan diri adalah lebih baik dan berpahala.

Jika kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti pula kita tenggelam di dalamnya, sedang taubat itu lebih utama.

Jika harta kita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa pula kita mesti ingin dikukuhi sendiri, sedang dengan kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jika kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa kita juga mesti membusungkan dada dan membuat kerusakan di dunia ini, sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia ini agar sejahtera.

Jika Cinta akan menjadi masa lalu yang pada khirnya, maka mengapa pula kita mesti ingin memiliki dan selalu bersamanya, sedang dengan memberi saja akan lebih banyak menuai arti.

Jika kebahagiaan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa kita mesti merasakannya sendiri, sedang berbagi itu akan membuatnya lebih bermakna dan bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Jika hidup ini akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa pula kita mesti mengisinya dengan kesia-siaan belaka, sedangkan begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Dan pada suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu, kita semua pasti ingin ada di antara mereka yang beralaskan diatas permadani sambil bercengrama dengan tetangganya, saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu, hingga mereka mendapat anugerah itu.

******
Maaf ini hanya tulisan biasa dan mudah-mudahan ada manfaatnya, serta dapat kita renungkan sejenak......

Kata Bijak :
“Ketahuilah, hal-hal terindah di dunia ini terkadang tak bisa terlihat dalam pandangan atau teraba dengan sentuhan; mereka hanya bisa terasakan dengan hati.”
Helen Keller, Penulis Tuna Wicara-Netra AS (1880-1968)

Salam,

Selasa, 24 November 2009

HARAPAN


Membaca headline Kompas, 21 oktober: "Indonesia Melangkah Maju", seketika kita erasa terpacu, ada rasa bangga dan bahkan terasa energi ingin ikut maju. Namun, saat melanjutkan dengan subjudul yang bertuliskan 'memberantas kemiskinan......dst", kita pun langsung teringat dan membenarkan dalam hati realita dihadapan mata, mengenai angka kemiskinan, tingkat korupsi dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menyurutkan harapan.

Pasang surutnya harapan bisa sangat internal dan individual, sebagaimana negatif-positifnya kita memandang dunia. Namun tidak dipungkiri bahwa energi kita juga dipengaruhi oleh keadaan serta orang-orang di sekitar kita. Kita tentu pernah mengenal, seseorang yang bila ia memasuki ruangan, ruangan terasa hidup. Bila ia mengirimkan email atau sms, kita bisa merasakan bobot kekuatan di dalamnya. Kemampuan individu untuk membangkitkan energi dari orang di sekitarnya ini, sering terlupakan dalam aspek kepemimpinan, padahal kekuatan ini sangat diperlukan untuk mendorong dan menjaga stamina dan harapan kelompok dari hari ke hari.
Bayangkan seorang pimpinan kelompok yang bertugas membawa kelompoknya mengarungi perjalanan yang sulit dan membahayakan. Tentu saja ia harus selalu menemukan jalan sambil menjaga semangat kelompoknya.

Memelihara Harapan dengan Langkah Nyata
Bila ada menteri yang menggarmbarkan programnya dengan menyebutkan bahwa ia akan mengupayakan harga minyak stabil, maka kebanyakan orang akan berpikir:"Oh...minyak (minyak tanah, gas dan bensin) tidak akan naik lagi". Tidak banyak rakyat Indonesia yang paham betapa perdagangan minyak dunia sulit dikontrol dan betapa ekonomi Indonesia sangat terpengaruh oleh transaksi ini.

Harapan dan pemahaman sempit inilah yang bisa memicu gejolak di masyarakat, bila ternyata harga minyak dunia melambung dan efek dominonya lalu mempengaruhi harga-harga kebutuhan sehari-hari. Padahal, harapan yang sudah ditebar, sulit ditarik kembali. Kita sadari bersama bila harapan tidak terealisasi, rakyat dengan mudah bisa diprovokasi, menjadi emosi, merasa dibohongi, ujung-ujungnya demonstrasi menagih janji. Belajar dari sini, pemimpin modern tampaknya perlu menambah informasi yang disebarluaskan dengan langkah-langkah yang akan ditempuh, menyesuaikannya dengan harapan serta pengetahuan masyarakatnya. Bukan hanya sebatas sasaran akhir, namun langkah-langkah perencanaannya pun perlu disosialisasikan secara transparan dan jujur kepada publik, bukan sekedar terkomunikasikan pada rapat-rapat dengan majelis dan dewan wakil rakyat.

Harapan rakyat atau karyawan yang diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang akan di tempuh tentu saja bisa memupuk harapan dan spirit positif yang memberi energi lebih, meskipun belum tentu berhasil. Setidaknya dengan memahami langkah-langkah yang akan ditempuh, kita bisa bersama-sama melihat realitas dan memonitor. Bahkan, rakyat pun bisa berempati dan memberi dukungan bila negara mengalami kesulitan. Bukankah ini yang kita inginkan? Dalam keadaan kritis, anggota masyarakat, karyawan serta rakyat bisa menyumbangkan spirit untuk maju, melindungi serta mengusung pemimpinnya.

Tularkan Sikap Optimis
Dalam kondisi ekonomi dunia yang depresif begini, para pengusaha, ekonom, bahkan pemimpin negara dengan mudah terseret dalam sikap 'gloomy' berkepanjangan. Bisa jadi mereka tidak menyadari bahwa sikap 'suram' dan gundah ini akan membawa karyawan, bahkan rakyat yang tidak tahu banyak jadi turut bersikap pesimis. Mau tidak mau, pemimpin perlu mengedepankan sikap 'can-do' yang mengubah keadaan negatif menjadi positif. Kita tentu bisa mengajak orang untuk melihat tantangan di depan mata, seperti realitas pengangguran, sebagai momentum untuk refleksi dan penggantian arah strategi sumber daya manusia. Kita lihat, pemimpin yang optimis yakin pada adanya jalan keluar. Pemimpin yang kuat menularkan enerji biasanya tidak menghindar, tidak mencari-cari alasan atau sibuk memberi penjelasan mengapa sesuatu terjadi, melainkan langsung menyebutkan apa yang sedang dilakukan dan apa yang bisa digarap dengan langkah langkah yang pasti.

Energi perlu Di "Update" secara 'Realtime'
Adanya mekanisme komunikasi seperti 'twitter', BlackBerry, facebook dan lain-lain, menyebabkan bukan saja informasi, tetapi juga spirit dan sentimen, baik yang positif dan negatif, menyebar cepat bagaikan virus.
Banyak perusahaan berusaha membendung media komunikasi ini. Bukan semata karena media ini bisa memecah fokus dan konsentrasi, namun juga karena menyadari bahwa kritik, protes, ketidaknyamanan pun bisa 'seketika' disebarluaskan melalui media ini.

Di perusahaan teknologi seperti Google, karyawannya malahan didorong untuk selalu kritis dan 'update' dengan semua kejadian. Proyek besar maupun kecil, pengalaman, perasaan bisa langsung dikomunikasikan dengan para pemilik, yaitu Larry Page dan Sergey Brin, seminggu sekali. Inilah tantangan baru yang lain bagi pemimpin di era kritis dan demokrasi begini. Selain harus senantiasa siap menjawab sikap skeptis, oposisi dan kritis, seorang pemimpin yang baik tahu benar bahwa adalah bagian penting dari tugasnya juga untuk membuat spirit dan harapan selalu hidup.

salam. sumber>>www.experd.com

Senin, 16 November 2009

Bunyi Yang Berarti


Suatu hari, seorang dari desa mengunjungi temannya di kota. Bunyi ribut mobil-mobil dan derap orang yang lalu-lalang sangat menganggu orang desa itu. Kedua orang itu kemudian berjalan-jalan dan tiba-tiba orang desa itu berhenti, menepuk pundak temannya dan berbisik, "Berhentilah sebentar. Apakah kamu mendengar suara yang kudengar?"

Teman kotanya itu menoleh ke arah orang desa itu sambil tersenyum, dan kemudian berkata, "Yang saya dengar hanyalah suara klakson mobil serta suara orang lalu-lalang. Apa yang kau dengar?"

"Ada seekor jangkrik di dekat sini dan saya bisa mendengar suara nyanyiannya."

Teman dari kota itu mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Saya pikir kamu hanya bergurau. Tidak ada jangkrik di sini. Dan seandainya ada, bagaimana orang bisa mendengar suaranya di tengah kebisingan jalan ini? Jadi kamu pikir kamu bisa mendengarkan suara seekor jangkrik?"

Kata orang desa itu, "Ya! Ada satu ekor yang bernyanyi di sekitar sini sekarang."

Orang desa itu berjalan ke depan beberapa langkah, lalu berdiri di samping tembok suatu rumah. Di situ ada tanaman yang tumbuh merambat.
Orang Indian itu memetik beberapa daun, dan di atas daun itulah terdapat seekor jangkrik yang bernyanyi keras sekali.

Teman dari kota itu kini bisa melihat jangkrik itu, dan dia pun mulai bisa mendengar kan suara nyanyiannya. Ketika mereka kembali berjalan-jalan, orang kota itu berkata kepada teman desanya, "Kamu secara alami bisa mendengar lebih baik dari kami."

Orang desa itu tersenyum dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Orang desa tidak bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Sekarang lihat, saya akan memperlihatkannya kepadamu!"

Lalu, orang desa itu mengambil uang logam dan menjatuhkannya di trotoar. Bunyi uang logam itu membuat banyak orang menoleh ke arahnya. Kemudian orang desa itu memungut uang logam itu dan menyimpannya kembali di kantungnya, dan kedua orang itu kembali berjalan-jalan.

Kata orang desa itu, "Tahukah kamu sobat, suara uang logam itu tidak lebih keras daripada nyanyian jangkrik tadi. Meski demikian, banyak orang kota mendengarnya dan menoleh ke arahnya. Di lain pihak, saya adalah satu-satunya orang yang mendengar suara jangkrik itu.

Alasannya tentu bukan bahwa orang desa bisa mendengar lebih baik daripada orang kota. Tidak. Alasannya adalah bahwa kita selalu mendengar dengan lebih baik hal-hal yang biasanya kita perhatikan."

Seringkali ketika kita dalam masalah, kita berteriak memohon pertolongan pada Tuhan, dan kita merasa Dia diam saja. Ketika membaca cerita ini kita jadi sadar, sebabnya bukan karena Tuhan tidak menjawab, tapi karena kita lebih fokus pada diri kita sendiri dan permasalahannya daripada fokus pada Tuhan dan pertolongan-Nya.

Kita memasang telinga agar Tuhan menjawab sesuai dengan keinginan dan cara kita dan menolak suara Tuhan yang mengatakan bahwa Dia menyediakan jalan lain yang lebih baik! -(swaramerdeka).
-----------


Kata Bijak Hari ini :
"Jangan malu untuk mengatakan apa yang Anda sendiri tidak malu untuk memikirkannya" - Montaigne

Kamis, 12 November 2009

Kasih Orang Tua Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Galah



Kalau kita mau mengenang, Kenanglahlah kedua orang tua kita. Biasanya, di saat orang tua kita masih hidup, tidak mudah bagi kita untuk menghargai kasih sayang mereka. Padahal mereka selalu menebar cinta mereka dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah mereka.

Tak ada yang memikirkan begitu penting selain keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus karya mereka di dunia ini. Bahkan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.

Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah tersering terdengar. Namun, tak pernah usang, karena orang tua selalu dilahirkan dengan istilah jaman (pada waktu itu). Mengenang orang sebenarnya mengenang keberadaan diri kita sendiri. Kita terlahir dari sebuah kasih sayang, kita tumbuh dari naungan kasih sayang, kita pun ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang. Memang tak ada kata yang terlambat namun sebelum hati terdalam kita menyesal, kasihi orang tua kita. Bagi mereka, balasan ini jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya. Bagi mereka, itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.

Ada Kata Bijak :

"Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan dalam suatu cara yang berbeda". - (Dale Carnegie)

Kamis, 05 November 2009

Ketika Bisnis Digerakkan oleh Hati Nurani


Perusahaan terbaik, kinerja terbaik, produk terbaik, pelayanan terbaik, selalu muncul dari motivasi dan niat baik yang dimulai dari hati.

Ciri perusahaan-perusahaan yang memiliki keunggulan jangka panjang, ternyata tidak dimulai dengan konsep, stategi bisnis yang cermat dan jelas. Kebanyakan mereka ternyata lebih didorong oleh semangat kuat untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Dengan semakin sepatnya perkembangan teknologi, meningkatnya kompetisi global, dan semakin pendeknya siklus hidup produk (product life cycle), maka konsep, gagasan, pemikiran apapun yang merupakan karya intelektual (head) akan pula semakin cepat usang. Sebaliknya, profesionalisme yang didukung nilai-nilai idealisme (prinsip) yang lahir dari HATI nurani, terbukti mampu bertahan dan tetap relevan terhadap lingkungan yang selalu berubah dan sulit dipridiksi.

Nilai-nilai inti yang lahir dari keluhuran hati tersebut ternyata terbukti efektif dalam membangun bisnis atau membangun perusahaan besar, kecil, atau lembaga apapun yang melibatkan pemberdayaan manusia di dalamnya.

Gagasan yang dikemukakan di sini tidak bermaksud mengesampingkan peran rasio dalam mengelola dan mengembangkan bisnis. Melainkan, ulasan ini bermaksud mengangkat kembali unsur yang telah lama hilang atau kurang berperan dalam dunia bisnis modern, yaitu keterlibatan HATI NURANI. Ketidak seimbangan yang semakin berat sebelah dan lebih pada pragmatism heavy ini, coba diseimbangkan kembali melalui sejumlah opini, testimonial, analisa, dan berbagai pandangan dari beragam sumber referensi yang disajikan.

Serangkaian kisah dari berbagai perusahaan terkemuka yang berumur lebih dari 50 tahun, menunjukkan habwa faktor terpenting saat menghadapi masalah adalah kemampuan untuk melihat ke dalam hati dan meninjau landasan dalam diri kita mengenai nilai-nilai inti, praktik dan hubungan bisnis yang kita jalankan. Beberapa perusahaan membuktikan bahwa kunci keberhasilan yang berkesinambungan dalam kegiatan perusahaan maupun kehidupan individu berasal dari kearifan-kearifan yang datang dari hati nurani.

Seiring dengan berjalannya waktu, keluhuran hati akan menjadi salah satu ciri kekuatan sebuah bisnis maupun organisasi. Ciri keluhuran hati tersebut terletak pada sikap sebuah perusahaan yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan, hubungan, lingkungan dan segala aspek kualitas yang diperlukan dalam menciptakan keunggulan dan keberhasilan jangka panjang. Setiap perusahaan memiliki kesempatan untuk menjadi ”Perusahaan yang Berhati Nurani”!

Sumber---Intra2004

Selasa, 27 Oktober 2009

Gaji Papa Berapa???


Ini hanya cerita renungan saja yang menggambarkan Seseorang lebih menggargai waktu dari pada keluarganya.

Pada suatu hari seperti biasa Anton (kita sebut saja seperti itu), salah satu Kepala Cabang di sebuah perusahaan, setiap harinya pulang dari kantor dan tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.

Tidak seperti biasanya, Sarah (sebut saja begitu), putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.

Namun nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

Papa : "Kok, belum tidur sayang?" sapa Anton sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika Bapaknya pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pada pagi harinya.

Sarah : Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah pun menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab Sarah mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

Papa : (dengan kaget)“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

Sarah : "Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

Papa : "Oke. Kamu boleh hitung sendiri ya. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam, dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji
Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajarnya, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Anton beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.

Sarah :
"Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

Papa : "Wah, pinter anak papa. Sudah sana, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Anton.

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya,

Sarah : "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

Papa : "Sudah sana, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu.
Tidurlah".

Sarah : "Tapi Papa..."

Kesabaran Anton pun habis.

Papa :
"Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Anton nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Anton berkata,

Papa : "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.
Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Anton.

Sarah : "Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau aku sudah menabung lagi dari uang jajan sarah selama minggu ini".

Papa : "lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Anton lembut.

Sarah : "Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku hanya mau ajak Papa main ular tangga sebentar.
Tiga puluh menit....... aja. Karna Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat
berharga sekali.

Jadi, aku mau ganti waktu Papa yang tiga puluh menit itu. Aku buka tabungan uang jajanku, tapi hanya ada Rp. 15.000,- tapi.....tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku (sarah) harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Anton pun terdiam. ia kehilangan kata-kata sepatah pun. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

Demikian ceritanya.
Semoga dapat diambil hikmanya.

Salam,

Mencapai potensi hidup yang maksimal



Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir, rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.

Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu, meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri.

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang dating menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.

* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita, Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita, namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu, sekarang juga !

( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)

Bencana Ohhh Bencana


Bencana, bencana, bencana dan lagi-lagi bencana. Mungkin ini bahasa-bahasa alam yang sering kita dengar di abad 21 ini. Ada bencana tsunami, gunung meletus, tanah longsor, badai Katrina, pesawat jatuh, tabrakan kereta api, bom meledak, yang kesemuanya menelan tidak sedikit nyawa. Air mata, kesedihan, dukacita, protes, tidak puas, menyalahkan itulah sebagian sahabat-sahabat kehidupan yang kerap datang di belakang bencana.

Tentu mudah dipahami kenapa bencana ditemani kesedihan, dukacita dan airmata. Karena ada kehilangan harta, kehilangan orang-orang tercinta, penyakit yang bergentayangan di sana-sini, masa kini dan masa depan yang tiba-tiba jadi kelabu. Sehingga tentu manusiawi sekali kalau kemudian bencana menciptakan banyak trauma dalam banyak kehidupan.

Aceh dengan tsunaminya di tahun 2004, New Orleans dengan topan Katrinanya di tahun 2005 memang tidak segera pulih. Bangunan, jalan, tempat ibadah memang bisa segera kembali dalam waktu beberapa tahun. Namun trauma-trauma jiwa manusia, ia memerlukan waktu lebih lama. Benar kata sejumlah sahabat yang lagi berduka akibat bencana, kata-kata, cerita memang lebih mudah. Namun mengalami langsung kesedihan mendalam akibat bencana, sungguh tidak mudah diungkapkan sepenuhnya dengan kata-kata manusia.

Sehingga tentu layak direnungkan pendapat seorang penulis muda asli Inggris bernama Robert Holden yang menulis Success Intelligence: ”The major challenges we face today require not more effort, but more wisdom”. Tantangan kekinian bukannya memerlukan banyak usaha dan upaya, melainkan lebih banyak kebijaksanaan. Di depan bencana-bencana alam, manusia lengkap dengan ipteknya seperti tidak berdaya. Dalam ketidakberdayaan seperti ini, upaya dan usaha membuat manusia seperti seseorang yang sedang berada di tengah lumpur rawa.-rawa, semakin keras ia berusaha semakin cepat ia mati ditenggelamkan lumpur.

Ini bedanya upaya dan usaha yang menggarisbawahi bekerja keras di satu sisi, dengan kebijaksanaan di lain sisi. Dalam bahasa-bahasa kebijaksanaan, usaha dan kerja keras tentu perlu. Namun kerja keras bersanding rapi dengan keikhlasan. Kerja keras dan keikhlasan ibarat kaki kiri dengan kaki kanan. Keduanya saling melengkapi dalam berjalan.

Dalam konteks bencana, ketika bencana terjadi ia menjadi semacam ujian keikhlasan bagi yang mengalaminya. Ujiannya tidak melalui kata-kata manusia yang kering dan dangkal, melainkan melalui pengalaman keseharian yang mendalam. Mirip dengan ujian di sekolah, begitu lulus maka muridnya naik kelas. Hal yang serupa juga terjadi dalam kehidupan manusia. Begitu bencana lewat, ia bisa melihat langsung berapa nilai keikhlasan yang layak ia sandang ketika itu. Dan hanya persoalan waktu, begitu kematian menjemput, tinggi-rendahnya nilai keihklasan terakhirlah yang menentukan kualitas perjalanan kemudian. Salah satu manusia mengagumkan yang pernah sampai di sini bernama Lao Tzu, perhatikan salah satu penemuannya setelah berjalan jauh di jalan-jalan kebijaksanaan: ”Knowing other is intelligence, knowing yourself is true wisdom”. Dan bencana berperan tidak kecil dalam membawa manusia pada kebijaksanaan.

Disamping memberi masukan tentang kualitas kebijaksanaan, bencana juga membuka jendela-jendela cinta. Berbicara mengenai mencintai, menyayangi, memaafkan memang mudah. Namun di tengah guncangan bencana, terlihat terang benderang seberapa lebar jendela-jendela cinta manusia terbuka. Ada memang yang saling menyalahkan. Namun sebagian orang justru kualitas saling berpelukannya semakin erat ketika bencana terjadi. Ada bagian-bagian cinta yang selama ini tertutup, kemudian terbuka justru karena mengalami bencana. Tidak hanya cinta dengan manusia, juga cinta akan alam. Tidak saja cinta dengan sesama, juga cinta akan Tuhan. Perhatikan apa yang pernah ditulis Sydney Harris: “The highest reward of love is not what we get for it but what you become by it”. Hadiah cinta yang tertinggi bukannya apa yang didapat, namun kita sedang dibuat seperti apa oleh cinta.

Dalam bahasa lain, bencana yang membukakan jendela-jendela cinta, tidak saja menghadiahkan sesuatu ke diri ini, ia juga sedang menunjukkan kalau cinta sedang membuat kita menjadi jiwa-jiwa yang lebih perkasa, lebih peka, serta tanda-tanda pertumbuhan jiwa lainnya. Mungkin ada sahabat yang masih belum terima, kalau dari sini ada yang menyarankan berterimakasih pada bencana. Dan layak hal ini dimaklumi. Dan mungkin benar pendapat banyak sahabat-sahabat Sufi, kalau tidak ada satu pun kejadian (dari yang amat kecil sampai dengan yang sangat besar) yang tidak membawa sidik-sidik jari Tuhan.

Dalam terang pemahaman sekaligus kepekaan seperti ini, kini terpulang kepada rejeki hidup masing-masing. Ada memang manusia yang sudah berulang-ulang dihajar bencana tetapi belum menemukan sidik jari Tuhan. Ada juga manusia yang dicoba amat sedikit bencana dibandingkan manusia kebanyakan, namun ia sudah melihat sidik-sidik jari Tuhan di sana-sini. Dan tidak disarankan untuk saling menghakimi dalam hal ini. Yang belum melihat sedang bertumbuh, yang sudah melihat juga sedang bertumbuh. Yang jelas, Humberto Maturana pernah menulis dalam sebuah paper: “Love broadens vision, love enables creativity, and love expands intelligence”. Dengan saling mencintai dan menghormati manusia bisa memperluas dan memperbaiki visi, kreativitas sekaligus kecerdasan akan kehidupan. Belajar dari sini, di Timur ada sahabat-sahabat yang layak dihormati yang hanya mengenal sebuah doa setiap harinya: semoga semua berbahagia! *****

Perubahan dalam Melihat Perubahan


Membaca dan mengamati besarnya intensitas perubahan di segala bidang, sungguh tidak bisa dibayangkan sebelumnya, kalau kita akan sampai pada tatanan masyarakat seperti ini. Meskipun segala upaya telah dikerahkan, tetap perekonomian belum juga bergerak sebagaimana diharapkan.

Digabung menjadi satu, kita memang hidup di zaman dengan menu tetap berupa erubahan. Dulu, antara berubah dan tidak berubah hasilnya tidak berbeda banyak. Sekarang, siapapun yang tidak merubah diri, akan digilas oleh roda perubahan.

Sayangnya, respons alami manusia - sebagaimana telah diketahui sejak lama dalam banyak studi manajemen perubahan - cenderung menempatkan perubahan sebagai gejala yang mengganggu kenyamanan. Sehingga, hampir setiap bentuk perubahan berhadapan dengan resistensi di mana-mana.

Dalam tataran logika yang sederhana, penolakan model terakhir ini, bisa dicarikan sebabnya pada unsur ketidakpastian yang dihadirkan perubahan. ‘Dibandingkan dengan perubahan yang tidak pasti, lebih aman kondisi tanpa perubahan yang jelas hasilnya’, demikian kira-kira argumen banyak orang.

Namun, sekarang zamannya sudah lain. Kondisi sekarang yang tidak berubah sama tidak pastinya dengan kondisi bila perubahan dilakukan. Seperti kapal yang mau tenggelam. Tidak berubah pasti tenggelam. Berubah juga belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.

Kemajuan akan lebih banyak berpihak pada mereka yang berani menciptakan perubahan. Dibandingkan dirubah, lebih baik merubah diri dan keadaan. Berikut beberapa hal yang berguna kita renungkan :

Pertama, waspadai sejak awal bahwa realitas yang hadir di kepala kita tidak terbatas pada apa yang kita persepsikan. Tidak juga terbatas pada apa yang kita kenal. Pergilah keluar jauh dari persepsi dan apa yang kita kenal. Lakukan percobaan dan eksplorasi semampunya.

Sebagai contoh, Anda berhadapan dengan persoalan kena PHK. Persepsi Anda mengatakan bahwa ini akan menjadi awal dari kehidupan yang tidak menentu.

Bila Anda setuju dengan saya untuk keluar dari persepsi dan pengalaman, gunakan momentum PHK ini sebagai titik balik kehidupan. Bila biasanya bangun jam 6 : 00, sekarang bangun lebih pagi. Jika biasanya pulang jam 18 : 00, sekarang pulanglah lebih larut. Jangan lupa, isi seluruh waktu dengan usaha dan kegiatan investasi waktu. Lakukan semua ini seperti malaksanakan hobi yang bermanfaat.

Kedua, bila suatu waktu mengalami kegagalan, katakan terimakasih pada setiap kegagalan. Sebab, ia telah mengajarkan ke kita banyak cara yang tidak bekerja. Untuk kemudian, terus menerus mencari.

Ketiga, ada banyak keajaiban yang hadir dalam kehidupan bila kita berkomunikasi secara intens dengan diri sendiri. Luangkan waktu sedikitnya tiga puluh menit sehari untuk berbincang-bincang dengan sang aku. Khususnya, berkaitan dengan perubahan yang kita lakukan hari ini.

Pertanyaannya bukan seberapa banyak perubahan yang dilakukan hari ini. Namun, seberapa intens kita belajar dari perubahan hari ini.

Keempat, miliki sebanyak mungkin kebebasan untuk memilih. Singkirkan hal-hal yang bisa mengurangi kebebasan kita. Ini perlu, sebab dengan keterbatasan, kita sedang memasang banyak kaca mata kuda tidak perlu. Misalnya, kalau ternyata rugi jangan-jangan semua tabungan terkuras habis. Bila tetap menganggur maka keluarlah biaya tanpa ada manfaat berguna. Sejauh kita melakukannya dengan kalkulasi yang kita yakin tepat, kerjakanlah dengan penuh keyakinan.

Kelima, sebagaimana badan fisik kita yang justru menciut bila tidak pernah digunakan, kemampuan imajinasi juga demikian. Semakin banyak digunakan, ia akan memiliki daya jangkau yang semakin jauh dari hari ke hari. Lebih-lebih bila ia dibungkus oleh faktor keyakinan yang kuat.

Akan tetapi, pengalaman kemudian mencatat, justru keberanian ini yang merubah kemampuan potensial menjadi kenyataan. Untuk kemudian, memberikan warna warni pada kehidupan sesudahnya.

Jadi, apa yang saya maksud dengan perubahan dalam melihat perubahan, mulailah dengan keberanian, kemudian kita akan menemukan perubahan.

Managing The Heart Capital-1


Betul kata sejumlah sejarahwan, sejarah adalah bentangan makna yang dalam dan panjang. Sayangnya, teramat sedikit jumlah manusia yang mau meminum kejernihan makna dari sana. Yang lebih banyak justru manusia yang jatuh dulu dalam lumpur-lumpur tua sejarah. Kemudian, baru meminum rangkaian air makna. Hal yang sama juga berlaku bagi perjalanan panjang manusia menemukan modal-modal kemajuan.

Modal material sebagai contoh, oleh sejarah sudah diberitahu dari dulu, kalau jauh dari memadai. Namun, tetap saja ada banyak penguasa dan pengusaha yang mau lari di atas roda-roda modal material semata. Indonesia, Argentina, Brasilia dan hampir semua negara berkembang dintandai oleh kekeroposan perekonomian terutama karena bertumpu pada modal material semata. Ternyata, modal material yang melimpah tidak saja membuat manusia bersyukur, melainkan juga membuat bangunan negara bangsa keropos di sana-sini. Baik karena lahan korupsi tersedia di mana-mana, juga karena menjadi sumber kemalasan yang menakutkan.

Dalam dunia pengusaha juga sama, munculnya mega skandal seperti Enron dan Worldcom di AS bahkan membuka tabir kalau modal material bisa merubah segalanya. Jangankan dalam masyarakat yang dari dulunya sudah korup, dalam masyarakat Amerika di mana teknologi manajemennya sudah demikian maju, serta etika dujunjung tinggi saja bisa dibuat banjir bandang oleh modal material saja.

Lebih dari sekadar keropos, sejumlah negara bahkan tidak maju-maju hanya karena berkonsentrasi pada modal material seperti utang semata. Sebagian negara bahkan dililit lingkaran setan hutang tanpa mengenal batas waktu kapan berakhirnya. Ada juga negara dan perusahaan yang justru runtuh di tengah limpahan modal material seperti utang. Sebab, di tengah limpahan materi kemudian orang hanya berebut uang dan kekuasaan. Lupa tugas-tugas lain yang lebih penting.

Popular Posts

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons