Rabu, 26 Januari 2011

Tanda Hubungan yg Mulai Retak


VIVAnews - Keberhasilan sebuah hubungan asmara bukan hanya dinilai dari lamanya hubungan tersebut berlangsung. Tapi, juga keterlibatan emosi di dalamnya.

Pada awal hubungan, semua mungkin terasa menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, konflik biasanya mulai mengganggu. Tak jarang, konflik yang tak berkesudahan membuat pasangan berpikir ulang atas kelanjutan hubungan.

Mary Pender Greene, ahli hubungan dan psikoterapis asal New York, memaparkan sejumlah tanda hubungan di ambang kehancuran. Lakukan evaluasi melalui tanda-tanda berikut jika merasa ada yang tidak beres dengan hubungan selama ini.

1. Koneksi terasa lebih seperti sebuah pertemanan dibandingkan hubungan cinta.

2. Dia mengatakan "Aku cinta kamu", dan Anda sulit untuk membalasnya.

3. Anda dan dia mulai jarang bertukar cerita.

4. Salah satu pasangan, selingkuh.

5. Ada semacam perasaan 'tidak nyambung' saat mencoba berkomunikasi.

6. Drama antara Anda dan pasangan jadi lebih menarik dibandingkan hubungan itu sendiri.

7. Anda membicarakan masa depan bersama yang tampaknya tidak nyata atau terlalu indah.

8. Anda lebih sering bertengkar dengan dibandingkan bersenang-senang.

9. Berhubungan seksual hanya karena salah satu menginginkannya.

10. Dia tidak mendukung pekerjaan atau kesenangan Anda di luar hubungan.

11. Anda mulai mencari orang lain yang lebih menarik.

12. Kehidupan seksual sering berakhir buruk atau menyedihkan.

"Anda mungkin bisa berlama-lama dalam hubungan yang tidak bahagia. Itu karena hubungan telah menjadi bagian dari rutinitas dan Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Anda keluar dari hubungan tersebut," kata Pender Greene, seperti dikutip dari ThirdAge.

Anda memang dapat melanjutkan hubungan karena ada tujuan fungsional di dalamnya seperti persahabatan sederhana atau hubungan sosial yang lebih luas. Tetapi, semakin lama Anda bertahan dalam sebuah hubungan yang tidak memuaskan, semakin sedikit kesempatan Anda akan memiliki hubungan lebih baik.

Melepaskan hubungan yang sudah mapan memang sangat sulit, tidak nyaman, bahkan menakutkan. Tapi, ini bukan akhir dari dunia. Justru, bisa menjadi awal dari kehidupan yang baru.

*
Mudah-mudahan Bermanfaat
salam Persahabatan

Senin, 24 Januari 2011

Jangan Menghukum Anak Kita


Orang tua menghukum anak? Ada dua alasan, seperti dipaparkan psikolog Ery Soekresno. Pertama, karena orang tua punya target atau standar tingkah laku untuk anaknya, "Namun ternyata standar itu tak dilakukan oleh anak." Kedua, ada tingkah laku tertentu yang ingin dihentikan oleh orang tua. "Mungkin tingkah laku itu baik, tapi karena berlebihan, jadi harus dihentikan."

Selain itu, menurut Ery, orang tua juga sering menghukum anak karena tak punya alternatif lain untuk menghentikan suatu tingkah laku anak.

Yang harus diperhatikan, ujar Ery, saat memberi hukuman kita juga harus melihat diri sendiri. Maksudnya, tega apa enggak. "Kalau enggak tega, ya, jangan beri hukuman yang berat-berat. Nanti kita malah jadi enggak konsekuen." Akibatnya, kita bisa dijadikan bulan-bulanan oleh anak. Celaka, kan!

Sering terjadi, kita suka mengancam anak, "Awas, kalau Kakak nakal lagi, nanti Bunda pergi." Tapi sering pula ancaman tersebut tak kita lakukan. Nah, cara seperti ini, menurut Ery, akan membuat anak memandang rendah ancaman. "Ah, paling Bunda cuma ngomong doang," begitu pikir si anak. "Jangan salah, lo, kemampuan anak untuk mengobservasi gerak tubuh dan mimik orang tua sangat tajam," kata Ery yang tak setuju orang tua menerapkan ancaman.

Jadi, tandas Ery, kalau memang kita sedang marah, ya, marahlah beneran. Jangan kita marah tapi muka tersenyum. Sebaliknya, jangan pula kita bilang sayang tapi nyubit atau memukul. "Itu, kan, nggak sinkron. Orang tua harus belajar membedakan antara marah dan sayang."

Yang tak kalah penting, tambah Ery, jangan pernah memberi label jika ada tingkah laku anak yang tak sesuai. "Orang tua harus memisahkan tingkah laku dan pelakunya. Tapi yang terjadi, kadang orang tua tak sadar dan membenci pelakunya."

Disiplin
Sebenarnya Ery lebih setuju kita menerapkan konsekuensi ketimbang hukuman. Sebab, konsekuensi berkaitan dengan disiplin, tak demikian halnya dengan hukuman. "Orang tua sering menyamakan kedua hal ini, padahal sebenarnya berbeda sekali. Hukuman adalah kontrol dari luar, sedangkan disiplin adalah kontrol dari anaknya sendiri," terangnya.

Disiplin atau disciple dalam bahasa Latin berarti belajar. Jadi, disiplin memberikan pelajaran kepada anak tentang bagaimana bertingkah laku yang seharusnya. "Dalam disiplin ada aturan, komunikasi dan penguat positif. Kalau aturan dijalankan dengan baik, anak akan mendapat hadiah. Misalnya, dipuji, dipeluk dan sebagainya, yang bisa memperkuat tingkah laku baik si anak." Sebaliknya, bila anak tak menjalankan aturan, ia akan mendapat konsekuensi.

Dengan disiplin, kita juga sekaligus menyatakan harapan kita kepada anak. "Biasanya anak akan merasa nyaman, tenang, dan damai, karena ia tahu apa yang diharapkan oleh orang tuanya." Misalnya, "Bunda ingin Kakak membereskan mainan setelah bermain." Atau sebelum bertamu ke rumah orang, kita bisa bilang, "Kita akan bertamu di rumah orang. Kalau belum dipersilakan, Kakak enggak boleh mengambil makanannya dulu, ya."

Disiplin harus diterapkan sejak dini dengan memperkenalkan beberapa aturan. Misalnya, melarang anak menyentuh stop kontak. "Tapi untuk anak yang masih dini, sebaiknya ruanganlah yang didisiplinkan," ujar Ery. Maksudnya, kita harus menciptakan lingkungan yang aman buat anak. Misalnya, kalau kita ingin vas bunga tak dipecahkan oleh anak, maka pindahkan vas tersebut ke tempat yang lebih aman. "Daripada orang tua bolak-balik bilang jangan ke anak."

Lain halnya pada anak yang lebih besar, orang tua harus mulai memberi aturan. Misalnya, "Kakak tak boleh memukul Adik karena dipukul itu sakit. Konsekuensinya, kalau Kakak memukul Adik berarti Kakak harus bermain sendiri." Atau, anak melempar mainannya, katakan, "Tidak boleh melempar-lempar mainan, karena mainan bisa rusak. Kalau Kakak melempar lagi, akan Mama ambil mainan itu untuk disimpan."

Jadi, tandas Ery, kita harus selalu berada dalam posisi membantu anak untuk bertingkah laku baik. "Jangan langsung memberi hukuman. Tapi ajarkan sebab-akibatnya, bahwa kalau ia bertingkah laku tertentu maka konsekuensinya begini."

Konsep Diri Negatif
Hukuman, terang Ery, hanya memberi tahu anak tentang kesalahannya tapi tak memberi tahu bagaimana ia seharusnya bertingkah laku. "Anak hanya tahu bahwa ia salah, tapi setelah itu so what, lalu apa? Ia tak diajarkan harus bagaimana."

Apalagi jika anak sampai diberi hukuman fisik yang juga disertai kata-kata menyakitkan. "Itu bisa membuatnya sakit hati, merasa direndahkan dan tak diberi kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakunya." Biasanya anak akan tumbuh menjadi pendendam lantaran ia tak pernah didengar dan dihargai. "Mereka juga cenderung tak bisa menyelesaikan masalah dengan baik tapi dengan hukuman juga."

Yang lebih parah, hukuman dapat merusak konsep diri anak. "Anak jadi memiliki konsep diri negatif sehingga membuatnya tak percaya diri. Bawaannya takut melulu, enggak berani tampil, takut salah, dan sebagainya. Ia merasa bahwa yang ia miliki adalah kejelekan. Ia tak bisa menemukan aspek positif dari dirinya," papar Ery.

Ery mengingatkan, usia 3 sampai sekitar 6 tahun merupakan usia pembentukan (formative years) dan biasa disebut sebagai masa keemasan (golden years) seorang anak. "Masa ini tak mungkin terulang," tukasnya. Nah, bila di masa ini anak sering dihukum berarti ia banyak dilarang. Otomatis, kebutuhan anak untuk menjelajah, berinisiatif dan memupuk rasa ingin tahu menjadi terhambat. "Anak jadi tak punya inisiatif dan tak punya pendirian."

Dampak lainnya, anak menjadi conform, selalu berpendapat sama dengan orang lain. "Ia takut berbeda dengan orang lain. Karena kalau berbeda, ia takut diomeli." Disamping, potensi anak tak terealisir. "Anak jadi tak kreatif. Ia akan takut mencoba karena sudah penuh dengan ancaman."

Populer di Kalangan Teman
Lain halnya dengan disiplin, anak akan tahu apa konsekuensi dari tingkah lakunya. "Sehingga anak akan selalu memandang bahwa berbuat baik itu menyenangkan dan berbuat tak baik itu tak menyenangkan," bilang Ery.

Merujuk data penelitian, orang tua yang banyak melatih anak dengan batasan-batasan dan konsekuensi, biasanya akan memiliki anak yang lebih populer di kalangan teman-temannya. "Karena mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan, kontrol dirinya bagus, tak mudah diombang-ambingkan orang."

Anak-anak yang demikian, lanjut Ery, memiliki prinsip dan biasanya kelak menjadi pemimpin. "Mereka tahu bahwa mereka punya kelebihan tapi juga punya kekurangan. Berbeda dengan anak-anak yang sering dihukum, tahunya cuma dirinya jelek saja."

Akhirnya Ery menyarankan kita agar mencoba untuk lebih sabar dan lembut dalam menghadapi anak. "Ini memang susah. Tapi ingatlah, kesabaran kita akan berbuah bahwa anak kita juga akan menjadi orang yang sabar."

Anak adalah "potret" orang tua. Iya, kan!
Hati-hati, lo, memberi label/cap negatif pada anak akan membentuk konsep diri yang salah. Pemberian label/cap yang positif semisal "pintar" dan "cantik" juga bisa berpengaruh negatif, lo.

"Kamu ini gimana, sih? Sudah dikasih tahu jangan gangguin adik tapi masih juga diganggu. Kamu ngerti enggak, sih, kalau Mama lagi repot? Dasar anak bandel!"

Sering, kan, mendengar sang ibu atau ayah berkata demikian kala marah pada buah hatinya. Dalam keadaan "lupa diri" akibat emosi yang meluap kerap terlontar kata-kata yang memberi label pada anak. Entah "anak bandel", "anak penakut", "anak cengeng", dan sebagainya.

*
Semoga bermanfaat dan Salam Persahabatan

Jumat, 21 Januari 2011

Harapan tak Pasti


by : Ok Yadi

ketika ku ingin kamu
dan nyatanya
dirimu tiada pernah mencariku
ketika ku mengharapkan mu selalu..

ketika ku tersenyum
ketika ku termenung
ketika ku butuh cinta
dimanakah dirimu?

ketika ku bersedih
ketika ku menangis
ketika ku terjatuh
dimanakah dirimu

ku perlu kau seperti air
ku perlu cintamu selamanya
ku perlu kasihmu tuk hatiku
inginnya aku ingin kamu bersamaku

jika bukan kamu yang ngomong
hanya kan kuanggap itu tong kosong
sayangnya itu kamu yang ngomong
hatiku jadi panas dan gosong

janganlah menoleh padaku
memangnya siapa aku
aku tak mau kau ganggu aku
karna ku bukanlah sebuah mainan

Biarkan diriku sendiri
sendiri tu menerawan
akan kekurangan-kekurangan ku
sambil ku berharap ada ke ajaiban

*
Salam Persahabatan

Rabu, 19 Januari 2011

Hati yang Berbicara


by: ok yadi

simpanlah mimpimu di dalam kehangatan jiwa
ketika mimpi-mimpi itu datang
pejamkan mata, rebahkan jiwa
biarkanlah hati yang berbicara

tapi......
apakah apa bedanya bila mata ini terpejam?
fikiran jauh mengembara, menembus batas langit
karna cinta telah membakar jiwa

coba katakan apa yang engkau inginkan
siapa tahu ku mampu melepaskan dukamu
coba kita dekap hening dengan terbang menembus waktu
dan tak perlu kau risaukan luka dan kepedihannya

dalam doa 'ku selalu memuja
keselamatanmu dan sahabat semuanya
serta seluru umat di dunia ini
mari rengkuh mentari sang mentari

walau bagai berdiri di padang Sahara
tubuh nan kotor dan mandi keringat
mata tajam seperti elang
mari kita menangkap kilau kedalamannya

walau kita tak pernah tahu kapan duka kan terobati
meskipun hujan t'lah mulai turun
mari pejamkan mata, rebahkan jiwa
biarkanlah hati yang bicara

*
salam persahabatan

Jumat, 14 Januari 2011

Relung Hati


by: Ok Yadi

janganlah bimbang, janganlah ragu
hanyalah aku, hanyalah dikau
tak pernah tersirat kubenci padamu
hatiku, jiwaku, untukmu
aku tahu, engkaupun tahu

teganya hatimu padaku
kau pergi tinggalkan diriku sendiri
aku tahu, engkaupun tahu
badaipun pasti kan berlalu
yang ada tak mungkin selamanya ada

memang pernah kurasakan
pernah kudambakan
indahnya cinta yang tercipta
dan ingin rasanya kunyatakan
tapi apa daya diri ini

walau kadang sakit
sakit belum terhapus dihati ini
apa lagi ......
yang kau harapkan dariku
anganku tak pernah tercipta

tak ingin aku bersandiwara
walau kurasa terbuai diantara dusta
tapi ku yakin
di antara musibah kan tercipta sebuah berkah
hilang satu, kan tumbuh kembali

*
salam persahabatan

Popular Posts

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons